Kenali 10 Macam Media Tanam Ini Sebelum Bertanam Hidroponik

Media Tanam Hidroponik – Bertanam hidroponik sedang populer terutama untuk masyarakat perkotaan yang haus akan sentuhan tanaman namun tidak memiliki tempat yang cukup luas untuk bercocok tanam. Selain hasil penanaman secara hidroponik dapat dikonsumsi sendiri, terdapat kepuasan tersendiri pula ketika berhasil menumbuhkan tanaman dengan cara hidroponik. Baca : Cara menanam hidroponik sederhana.

Hidroponik adalah sistem bercocok tanam tanpa menggunakan tanah. Sebagai gantinya, Anda akan membutuhkan media tanam lainnya yang mendukung pertumbuhan tanaman. Berikut merupakan 10 macam contoh media tanam hidroponik yang paling umum digunakan.

10 Macam Media Tanam Hidroponik

1. Arang Sekam

Arang sekam berasal dari sisa-sisa kulit padi (sekam) yang dibakar tidak sempurna sehingga menghitam. Jika Anda membeli langsung sekam dari petani, harganya sangat murah, bahkan bisa dibawah lima ribu rupiah sekarung, atau malah diberikan gratis karena dianggap sebagai limbah pertanian. Namun sekam terlebih dahulu harus dibakar untuk mendapatkan komponen yang dibutuhkan untuk pertumbuhan tanaman, seperti abu, serat, silika, protein kasar, dan karbon.

Arang Sekam

Proses pembakaran sekam juga sebagai salah satu upaya untuk menghilangkan berbagai jamur yang mungkin menempel pada sekam sehingga merugikan proses penanaman secara hidroponik. Arang sekam sebagai media hidroponik memiliki kelebihan berupa bobot yang sangat ringan, pembuatan yang mudah, juga aplikasi yang sangat luas bagi berbagai jenis tanaman.

2. Rockwool

Rockwool adalah sejenis serat/fiber bahan non organik, yang dibuat dengan proses memasukkan udara ke dalam bebatuan yang telah dilelehkan. Rockwool yang telah selesai dibuat akan memiliki rongga-rongga kecil yang diameternya sekitar 6-10 mikrometer. Dengan menggunakan rockwool, tanaman hidroponik mampu mendapatkan air dan udara yang cukup karena dapat tersimpan di rongga-rongga tersebut.

Rockwool

Dalam menggunakan rockwool, biasanya media hidroponik ini dipotong terlebih dahulu kecil-kecil hingga ukurannya sekitar 2x2x2 cm. Keuntungan dari menggunakan media ini adalah tanaman menjadi lebih rapi dan mudah diatur dibandingkan menggunakan media yang berupa butiran-butiran kecil.

3. Hidroton

Nama lain dari hidroton adalah expanded clay. Bentuknya berupa butiran-butiran berwarna cokelat dengan diameter bervariasi hingga mencapai 0,5 cm. Hidroton adalah media hidroponik yang dibuat dari tanah liat yang dipanaskan dalam temperatur tinggi (1000oC).

Hidroton

Kelebihan menggunakan hidroton sebagai media tanam adalah kemampuannya dalam menyimpan air yang digunakan untuk nutrisi tanaman. Selain itu, hidroton akan membuat pH media tanam lebih stabil, serta tanaman pun akan memiliki sistem aerasi terbaik karena diantara rongga-rongga hidroton tentunya akan terdapat lebih banyak udara.

4. Cocopeat

Dari namanya, kita sudah bisa menebak bahwa cocopeat berhubungan dengan kelapa. Media hidroponik yang satu ini memang berasal dari limbah sabut kelapa yang kemudian dihancurkan menjadi helaian-helaian serat kasar yang juga banyak dimanfaatkan untuk media hidroponik.

Cocopeat

Banyak sekali kelebihan penggunaan cocopeat untuk hidroponik, diantaranya adalah kandungan alami dari sabut kelapa yang dapat mengusir serangga, mampu menahan oksigen lebih banyak pada media tanam, serta harganya yang relatif sangat murah, di daerah bisa hanya mencapai Rp 2.000-3.000,- per kilogramnya.

5. Perlit

Perlit merupakan mineral yang berasal dari letusan gunung berapi vulkanis. Jika Anda sering mendengar tanah di sekitar pegunungan berapi sangat subur, hal tersebut dikarenakan adanya perlit ini. Bentuknya seperti kerikil berwarna putih kapur. Dibuat dengan pemanasan pada suhu tinggi, perlit memiliki berat yang lebih ringan dari vermikulit.

Perlit

Beberapa contoh tanaman yang memanfaatkan perlit sebagai media tanam untuk hidroponik adalah thyme dan chives yang membutuhkan penopang kuat bagi pijakan akarnya. Perlit juga termasuk media yang cukup awet dan memiliki pH netral.

6. Vermikulit

Vermikulit

Mirip dengan perlit, vermikulit merupakan mineral mika yang secara fisik bentuknya mirip perlit namun berwarna kecokelatan. Vermikulit banyak digunakan sebagai media hidroponik terutama di tempat yang iklimnya relatif kering dan panas, karena sangat bermanfaat untuk menahan air. Kemampuan vermikulit dalam menahan air sehingga media tetap lembab ini bisa dikatakan lebih baik dibandingkan perlit, namun seringkali untuk hasil yang optimal vermikulit digabungkan dengan perlit dalam penggunaannya.

7. Batang Pakis

pakis hidroponik

Bagian pakis yang sering digunakan untuk bertanam secara hidroponik adalah batangnya, terutama batang pakis yang berwarna hitam. Batang pakis yang berwarna hitam menunjukkan usianya yang sudah tua, sehingga lebih kering teksturnya dan mudah dibentuk menjadi potongan-potongan kecil. Salah satu tumbuhan yang banyak menggunakan pakis adalah anggrek. Di beberapa toko tanaman, banyak juga yang menjualnya dengan sebutan cacahan pakis. Selain mudah menahan air, dengan menggunakan pakis tanaman akan memiliki sistem aerasi yang baik pula untuk pertumbuhannya.

8. Hidrogel

Hidrogel

Hidrogel banyak digunakan untuk tanaman hias yang diletakkan di vas bunga, namun tidak menutup kemungkinan pula digunakan sebagai bahan media hidroponik. Terbuat dari kristal polimer, hidrogel awalnya berupa butiran kecil seperti merica yang berwarna-warni, kemudian ketika direndam dalam air, polimer tersebut mampu menyerap air dan ukurannya pun bertambah hingga sebesar biji kelereng. Penggunaan hidrogel yang mampu menyerap banyak air dan sangat cantik dilihat ini tentunya menarik setiap orang untuk bertanam hidroponik menggunakannya.

9. Moss

Moss atau lumut juga merupakan salah satu media hidroponik organik yang banyak dipilih orang. Media organik yang satu ini biasanya dimanfaatkan sebagai media penyemaian benih karena memiliki banyak rongga yang membuat akar lebih leluasa tumbuh ketika benih mulai berkecambah.

Moss Hidroponik

Di alam liar, tempat lumut tumbuh selalu lembab, karena lumut mampu mengikat banyak air sehingga ketika digunakan sebagai media hidroponik pun tanaman akan memiliki jaringan akar, sistem drainase, dan sistem aerasi yang baik.

10. Kerikil

Kerikil Hidroponik

Kerikil adalah batu-batuan kecil yang ukurannya beragam, mencapai diameter 0,7-0,8 cm. Ukuran kerikil akan mempengaruhi frekuensi penyiraman yang dibutuhkan tanaman. Kerikil yang kecil akan mampu memberikan lebih banyak rongga untuk menyimpan air dan nutrisi, namun kerikil yang besar akan membuat air tidak tersumbat. Sebaiknya pilih kerikil sesuai dengan kebutuhan tanaman, dan juga pilih batuan kerikil yang keras sehingga tidak mudah terurai.

Demikianlah 10 macam media tanam hidroponik yang biasa digunakan untuk bercocok tanam. Kini Anda sudah memiliki setengah bekal untuk mulai bertanam hidroponik. Setengahnya lagi? Tentunya niat dan kesungguhan untuk memetik sendiri hasil panen hidroponik Anda. Selamat mencoba!

Komentar